BABEL Online II Bangka – Masyarakat Kabupaten Bangka khususnya warga Sungailiat sekitarnya mungkin saat ini bertanya-tanya, mengapa pengejaan pengerukan Alur Muara Air Kantung Jelitik Sungailiat di kerjakan alat berat Power Crane atau PC, merupakan bantuan dari PT Timah untuk mengatasi pendangkalan terjadi di Muara Jelitik, Selasa (28/4/2026).
Berdasarkan pantauan langsung Media ini di lapangan, tampak sekali ponton CSD mini bantuan dari CSR PT Timah, kondisinya Mangkrak alias sudah tidak dapat beroperasi kembali.
Padahal sebelumnya, yang melakukan pengerjaan pengerukan di Muara Jelitik tersebut adalah Ponton Isap CSD atau Cutter Suction Dredger Mini.
CSD adalah Panton keruk pasir inovasi nelayan Sungailiat, yang didanai melalui program CSR PT Timah Tbk. Alat inipun bertujuan mengatasi pendangkalan di Alur Muara Air Kantung agar aktivitas nelayan lebih lancar.
Tujuannya, mengeruk pasir di muara yang dangkal dan memudahkan keluar masuk perahu nelayan.
Panton keruk itu telah diresmikan secara langsung oleh perwakilan PT. Timah Tbk, nelayan setempat, pemerintah daerah dan unsur-unsur lainnya, Jumat (23/1) di Dermaga Pos Sandar Polairud Bangka Belitung, Sungailiat.
Sebelumnya PT Timah Tbk bekerjasama dengan Kelompok Nelayan, Pengusaha Ikan Sungailiat (KNPIS) mendapatkan bantuan sebesar Rp 200 Juta dalam menghadirkan ponton penghisap pasir tersebut.
Pertanyaannya adalah berapa lama kah operasional Ponton CSD itu beroperasi melaksanakan pengerukan pasir Alur Muara Air kantung, Jelitik, semenjak di resmikan tanggal 23 Januari yang lalu.?!
Apa kendala yang dihadapi ponton CSD selama melakukan operasional dalam pengerukan pasir di Alur Muara Jelitik, karena berdasarkan pantauan langsung Media ini, pada saat CSD ini beroperasi hasil kerjanya tidak signifikan dan jauh dari hasil yang di harapkan..!!.
Mengapa Ponton CSD Mini sekarang ini Mangkrak alias tidak dapat beroperasi kembali, apakah mesin pompanya rusak, atau ada kendala teknis lainnya. Hingga PT Timah kembali memberikan bantuan satu unit PC untuk kembali mengeruk pasir di Alur Muara Jelitik tersebut…?!.
Babel Online, mencoba menanyakan perihal mengapa ponton CSD mini itu tidak lagi beroperasi mengeruk pasir di Alur Muara. Laode (52) merupakan warga nelayan I kebetulan yang saat itu memperbaiki perahunya, menjelaskan bahwa sudah 2 bulan ponton CSD mini terparkir di sini, tidak lagi beroperasi.
“Kalau bapak tanya mengapa ponton ini tidak lagi beroperasi, nah saya sendiri tidak tau. Apakah mesinnya rusak atau ada kendala lain, saya kurang paham. Tapi kalau saya dengar dari orang-orang ngomong, kendalanya adalah masalah BBM. Dana operasional tidak ada, tapi sebenarnya kalau saya bisa di bicarakan dengan pihak PT Timah. Khan di depan sana banyak, ponton-ponton bekerja di IUP milik PT Timah,” ungkapnya.
Sementara itu, Sopian (48) merupakan operator PC, mengerjakan pengerukan di Alur Muara Jelitik, mengungkapkan dirinya lebih dari 3 minggu melakukan pengerukan di Alur Muara Jelitik ini.
“Kalau bapak tanya saya, sudah berapa lama saya melakukan pengerukan alur muara Jelitik ini, sekitar lebih dari tiga minggu. PC ini merupakan bantuan dari PT Timah, untuk mengeruk pasir alur muara, agar supaya tidak mengalami pendangkalan lagi,” jelasnya.
“Untuk operasional, dibantu oleh Timah melalui pengawas tambang, pak Windy. Untuk beli Solar, Oli, maupun kerusakan suku cadang untuk PC ini, dari beliaulah yang menanggung. Kalau ada keperluan apapun saya melapor kadang ke beliau juga kadang-kadang ke anak buahnya,” tambahnya.
Sebelumnya, saat mewawancarai salah satu Mitra PT Timah, yaitu CV TGP juga membenarkan, bahwa per unit ponton yang beroperasi di dalam IUP PT Timah di depan Alur Muara Jelitik, dilakukan pungutan iuran perminggu sekali. Uang pungutan itu salah satunya di gunakan dalam membantu operasional PC untuk melakukan pengerukan di Alur Muara. (AM)

















